Penulis:
Romiandi Irwan Rachman
Guru SMP Tunas Sejahtera Seriang Kab. Kapuas Hulu Kalimantan Barat

Apa yang pertama kali anda pikirkan ketika mendengar kata matematika? Ketika kita membaca ataupun mendengar kata matematika, maka yang pertama kali terlintas di benak kita adalah kumpulan bilangan, operasi/hitung-hitungan, kumpulan rumus dengan segala kerumitannya dan masih banyak lagi yang lainnya. Bahkan tidak sedikit siswa yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang dianggap sakral di sekolah. Berbagai pertanyaan pun muncul terkait mata pelajaran ini, di antaranya “(1) Mengapa kita harus belajar matematika?”, “(2) Kenapa matematika itu rumit?”, “(3) Mengapa belajar matematika selalu membosankan?”, dan “(4) Kenapa matematika banyak rumusnya?”. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sempat saya dapatkan ketika menjadi siswa hingga menjadi seorang guru matematika itu sendiri.

Terkait dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka sebagai tenaga pendidik (guru) saya akan menjawabnya satu per satu melalui strategi yang saya lakukan dalam pembelajaran matematika. Untuk pertanyaan pertama, seperti yang kita ketahui bahwa matematika mulai diajarkan dari bangku Sekolah Dasar (SD) bahkan sampai Perguruan Tinggi (PT), hal ini disebabkan matematika merupakan mata pelajaran yang sangat penting untuk dipelajari karena sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran matematika membutuhkan perlakuan khusus dalam menanamkan konsep suatu materi pada setiap siswa karena materi dalam matematika saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya atau dengan kata lain memiliki hirarki/tingkatan yang memungkinkan siswa untuk dapat berpikir secara sistematis. Menurut Depdiknas (2006) bahwa tujuan pembelajaran matematika adalah untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, dan kemampuan bekerja sama. Selanjutnya, menjawab pertanyaan kedua yakni rumit atau tidaknya suatu mata pelajaran, semua tergantung dari diri kita sendiri termasuk dalam belajar matematika. Menurut saya, sebelum kita belajar tentang sesuatu termasuk matematika, kunci utamanya adalah jangan pernah membatasi diri kita terlebih dahulu (Stop saying: ah….aku tidak bisa, pasti nilainya selalu di bawah standar sementara anda belum memulai apapun), melainkan berusaha menanamkan kepada diri untuk BISA (yes, I’m able to do it all). Artinya, yakin dan percaya terhadap kemampuan diri kita sendiri”.

Kemudian terkait dengan pertanyaan ketiga, maka jawaban saya adalah “Siapa bilang belajar matematika itu rumit dan membosankan?”. Dalam tulisan ini, saya akan membuktikan bahwa anggapan tentang matematika itu sulit, rumit, membosankan bahkan menyeramkan itu tidak benar, kita bisa belajar matematika dengan asik dan menarik.

Saya akan mengambil subjek siswa kelas VII SMP yang berlokasi di SMP Tunas Sejahtera Seriang Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Hal ini dikarenakan saya merupakan seorang guru matematika di sekolah tersebut. Adapun materi yang diajarkan yakni tentang operasi penjumlahan bilangan bulat, pada materi ini masih banyak siswa yang melakukan kesalahan dalam menjumlahkan bilangan bulat. Hal ini disebabkan siswa belum memahami konsep operasi bilangan bulat khususnya pada operasi penjumlahan bilangan bulat itu sendiri. Saya menggunakan alat peraga berupa posi-nega card (kartu positif-negatif) dengan tujuan untuk meningkatkan minat belajar siswa sehingga siswa dapat memahami konsep operasi penjumlahan bilangan bulat dengan mudah.

Pengetahuan tentang penggunaan posi-nega card ini saya  peroleh ketika masih duduk di bangku kuliah dan posi-nega card ini hanya dapat digunakan pada materi operasi bilangan bulat. Saya mengambil alat peraga posi-nega card, sebab saya menganggap bahwa alat peraga ini cocok jika diimplementasikan pada siswa kelas VII SMP Tunas Sejahtera Seriang. Kecenderungan siswa yang dapat mengerti/memahami dengan mudah jika materi tersebut di sajikan dalam bentuk benda yang konkrit termasuk penggunaan alat peraga. Tujuan utama saya mengambil alat peraga posi-nega card ini yakni untuk memberi stimulus agar minat belajar siswa dapat meningkat dan dapat menciptakan suasana belajar yang seru dan menarik.

Romiandi_gambar 1
Mengenalkan Posi-nega Card dan menjelaskan aturan penggunaannya pada siswa

Pada gambar di atas, saya mengenalkan kepada siswa tentang posi-nega card bahwa kartu ini terdiri atas dua warna yang berbeda (dalam hal ini saya menggunakan sticky notes yang berwarna kuning dan merah muda) sebagai penanda positif dan negatif (kuning: positif dan merah muda: negatif). Kemudian saya juga menjelaskan tentang aturan penggunaan posi-nega card yakni jika setiap satu kartu positif dipasangkan dengan satu kartu negatif maka akan menghasilkan bilangan netral/nol (0). Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar 2 berikut:

Romiandi_gambar 2

Secara keseluruhan, penggunaan posi-nega card sangat membantu siswa dalam menyesaikan soal yang berkaitan dengan operasi penjumlahan bilangan bulat karena siswa dapat melihat dan mengerjakan secara langsung bilangan-bilangan yang dioperasikan. Sebagai contoh, , ketika kita mengarahkan siswa mengerjakan soal tersebut dengan menggunakan posi-nega card, maka dengan mudah siswa dapat mengambil 6 buah kartu kuning dan 7 buah kartu merah muda. Hal ini sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya yakni kartu kuning mewakili bilangan positif dan kartu merah muda mewakili bilangan negatif. Setelah itu, siswa diarahkan untuk memasangkan kartu kuning dan kartu merah muda. Kemudian diperoleh 6 pasang kartu yang artinya sama dengan 0 dan sisanya satu kartu berwarna merah muda, artinya bersisa (-1). Sehingga dapat di simpulkan bahwa hasil dari            .

Perhatikan Gambar 3 berikut:

Romiandi_gambar 3
Contoh Pengerjaan Soal Operasi Penjumlahan Bilangan Bulat dengan Berbantuan Posi-nega Card.

Pada awal pembelajaran, saya menginformasikan materi yang akan dipelajari yaitu operasi hitung bilangan bulat. Kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan alat peraga posi-nega card serta kaitannya dengan materi yang akan dipelajari. Saya menjelaskannya secara keseluruhan di depan kelas kepada semua siswa. Selanjutnya, siswa diarahkan ke dalam kelompok-kelompok belajar kooperatif, setiap kelompok terdiri atas siswa yang berkemampuan intelektual tinggi, sedang dan rendah (heterogen) dengan tujuan agar siswa mampu berbagi satu sama lain dalam mengkonstruksi pengetahuannya serta dapat bekerja sama dalam kelompok. Pada kegiatan ini, saya (guru) bertindak sebagai fasilitator/pengarah siswa sehingga pembelajaran dapat berpusat pada siswa (Students Centered Learning) serta siswapun antusias dalam pembelajaran karena mereka sendirilah yang menggunakan alat peraga, mencari solusi dan menemukan hasilnya. Sehingga pembelajaran dapat lebih bermakna bagi mereka.

Di akhir pembelajaran, setiap kelompok belajar dapat menyelesaikan soal dengan baik dan benar. Walaupun terdapat beberapa siswa yang masih bingung dalam pengerjaan soal, namun secara keseluruhan siswa dapat menyelesaikan soal yang diberikan dengan bantuan alat peraga posi-nega card dengan benar. Hal yang dapat disimpulkan adalah dengan mengimplementasikan alat peraga posi-nega card, minat belajar siswa kelas VII SMP Tunas Sejahtera Seriang dapat meningkat, hal ini dibuktikan dengan antusias siswa dalam mengerjakan soal dengan benar di setiap kelompok belajar dan juga ditunjukkan dengan meningkatnya hasil belajar siswa pada materi operasi bilangan bulat. Selain itu, siswa juga dapat belajar cara bekerja sama antar sesama anggota kelompok dan mengkonstruksikan pengetahuannya dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang diberikan melalui kelompok belajar.

Maka dari itu, saya sangat menganjurkan penggunaan alat peraga untuk menunjang kegiatan pembelajaran di dalam kelas salah satu diantaranya yaitu posi-nega card. Terutama bagi tenaga pendidik (guru) yang mengalami kesulitan dalam menanamkan konsep tentang operasi penjumlahan bilangan bulat.

Menjawab pertanyaan keempat/terakhir, jawaban saya ialah “apakah semua penyakit yang kita alami dapat disembuhkan dengan satu jenis obat saja?”. Tentu saja tidak, hal ini dikarenakan beda penyakit beda pula obatnya. Sama halnya dalam belajar matematika, kita tidak dapat menyelesaikan permasalahan dalam matematika hanya dengan satu atau dua rumus saja. Perlu digunakan beberapa cara untuk menyelesaikan suatu persoalan, karena beda persoalan beda pula rumusnya. Intinya ialah banyak berlatih mengerjakan berbagai bentuk soal yang ada, agar kita terbiasa. Seperti kata pepatah “ala bisa karena biasa”. Jadi, banyak rumus banyak tahu banyak pula ilmu yang kita peroleh.

Semua pertanyaan telah terjawab, bagaimana menurut anda? Masih menganggap matematika itu rumit? Jelas tidak bukan? Menurut saya, matematika pada dasarnya asik, menarik dan penuh tantangan. Jadi, tunggu apalagi? Ayo, belajar matematika.

Salam Math’s a mate….

Daftar Pustaka:
Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Depdiknas.