Mengubah Momok Menakutkan “Ulangan” Menjadi Sesuatu yang Menyenangkan

Penulis:
Arif B. Prayitno
Kepala Sekolah SDS Tunas Prima Khatulistiwa
Kalimantan Barat

Penilaian hasil belajar / ulangan yang dilakukan oleh  guru merupakan  proses  pengumpulan informasi dan dapat menjadi bukti tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam kompetensi sikap  spiritual  dan  sikap sosial,  kompetensi pengetahuan,  dan  kompetensi keterampilan  yang  dilakukan secara terencana dan sistematis, selama dan setelah proses pembelajaran. Melakukan ulangan juga merupakan bentuk tanggung jawab guru kepada siswa dan pemangku kepentingan pendidikan. Oleh karena itu, saya selalu melaksanakan ulangan setiap saya selesai mengajarkan satu bab kompetensi dasar.

Tantangan yang saya hadapi adalah ketika saya menyampaikan kepada siswa bahwa akan diadakan ulangan pada pertemuan selanjutnya. Respon mereka sama dan kompak yakni mengeluh dan tidak suka. Saya pun mencoba menanyakan mengapa mereka tidak suka dengan ulangan, salah satu jawaban mereka adalah karena mereka menganggap bahwa soal ulangan itu susah dan nilai mereka tidak akan mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Seketika sayapun berpikir alasan kenapa setiap siswa harus ketakutan seperti itu setiap kali akan menghadapi ulangan, apakah mungkin karena materi yang saya sampaikan terlalu rumit dan siswa tidak paham dengan materi pelajaran yang saya ajarkan, sehingga mereka pun tidak percaya diri dengan hasil ulangan mereka sendiri. Mereka sudah patah semangat dengan hasil yang nantinya tidak mencapai KKM. Akhirnya saya pun menyampaikan kepada siswa bahwa ulangan yang akan dilakukan ini adalah ulangan yang berbeda dari yang biasa dan akan membuat mereka senang dalam pengerjaan soal ulangannya.

Jam pelajaran saya pun selesai, saya segera kembali ke ruangan guru. Selama perjalanan dari kelas menuju ruangan guru saya memutar otak mencari cara yang menarik untuk memberikan ulangan yang berbeda kepada siswa-siswa saya. Jangan sampai di hari ulangan, banyak siswa yang tidak hadir dengan berbagai alasan. Berkali-kali saya membaca berbagai referensi mengenai cara penilaian hasil belajar agar saya dapat mengembangkan cara yang menarik untuk ulangan dengan tidak mengubah konsep maupun prinsip dari penilaian hasil belajar tersebut. Pada akhirnya, timbullah ide untuk memberikan ulangan dengan konsep permainan kepada siswa sehingga mereka dapat mengerjakannya dengan senang dan tidak menganggap ulangan sebagai hal yang menakutkan lagi.

Hari ulangan yang dijanjikan pun tiba, dengan yakin dan percaya diri saya berjalan menuju ruang kelas 5 sambil membawa beberapa lembar kertas dan sticky note yang sudah saya siapkan sebelumnya. Sesampainya saya di kelas, semua siswa ternyata sudah menyiapkan semua alat tulis seperti biasa, semua buku dimasukkan ke dalam laci dan tak ada satu pun di atas meja, yang ada hanya alat tulis dan papan alas untuk mengerjakan soal, terlihat sekilas mereka memang sudah siap untuk ulangan. Setelah siswa selesai memberikan salam di awal pertemuan, saya pun menanyakan kesiapan para siswa untuk ulangan hari ini dan mereka menjawab siap namun masih tersirat adanya kecemasan dari para siswa. Akhirnya saya menjelaskan kepada siswa bahwa ulangan pada hari ini akan berbeda dari yang biasa karena akan ulangan sambil bermain. Benar saja para siswa kegirangan mendengar hal tersebut dan mereka bersemangat untuk mendapatkan nilai yang bagus. Kebahagiaan seorang guru adalah melihat siswanya bahagia dengan metode pengajaran yang diberikan. Tak lama, saya pun memulai ulangan dengan membagikan kertas sticky note dan kertas kosong kepada siswa. Saya instruksikan kepada masing-masing siswa untuk membuat 5 soal dan dituliskan di kertas kosong tadi lalu untuk jawaban dari soal tadi ditulis di sticky note. Setiap sticky note untuk satu jawaban, setiap jawaban tidak diberi nomor. Soal dan jawaban yang dibuat oleh siswa sudah saya batasi sesuai dengan kompetensi yang sudah diajarkan pada pertemuan sebelumnya.

Waktu untuk membuat soal dan jawaban kurang lebih selama satu jam, setelah satu jam saya instruksikan kepada siswa untuk mengumpulkan kertas soal yang telah mereka buat  lalu kertas tersebut saya tempelkan di papan tulis kelas, sedangkan sticky note yang berisi jawaban saya letakkan secara acak di meja siswa. Secara bergantian saya meminta siswa untuk menjawab pertanyaan yang telah dibuat teman mereka dengan cara menempelkan sticky note yang tepat di dekat kertas soal tadi. Jadi mereka mengerjakan soal yang berbeda-beda dari teman-teman mereka, kemudian mengoreksi bersama-sama setelah mereka selesai mengerjakan. Setelah selesai, saya mengevaluasi hasilnya dan ternyata nilai yang didapatkan mereka cukup bagus. Hal yang paling penting adalah mereka merasa senang dan tidak terbebani dengan ulangan serta ulangan sambil bermain ini tetap memegang prinsip penilaian hasil belajar yaitu : sahih, objektif, adil, terpadu, terbuka, holistik, sistematik, akuntabel dan edukatif.

Menjadi kebahagian tersendiri bagi saya sebagai guru jika bisa membuat siswa lebih menyukai hal yang mereka anggap membosankan sebelumnya. Setelah ulangan ini selesai, siswa menjadi tidak sabar untuk mengikuti ulangan lagi. Tidak perlu ada siswa yang tidak masuk, berpura-pura sakit bahkan stress lagi jika ulangan akan dilaksanakan.

Setelah pertemuan itu, ulangan-ulangan yang saya lakukan selanjutnya selalu menggunakan metode-metode yang menyenangkan bagi siswa misalnya dengan metode walking gallery ataupun yang lainnya. Apapun metode yang digunakan, yang terpenting metode penilaian tersebut masih memegang prinsip dari penilaian hasil belajar. Dengan begitu siswa tidak merasa takut dengan ulangan, dan hasil yang diharapkan akan terpenuhi.

Referensi : Peraturan Menteri Pendidikan dan KebudayaanRepublikIndonesia  Nomor   104  Tahun 2014  TentangPenilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik  pada Pendidikan Dasar dan  Pendidikan Menengah

——————————-

Pemenang Pertama Lomba Menulis Guru Yayasan Tunas Lestari Sejahtera Tahun 2018


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *