Dunia pendidikan mengartikan identifikasi kesulitan belajar sebagai  usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Selain itu juga mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar serta cara menetapkan dan kemungkinan mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang seobyektif mungkin.

Dengan demikian, semua kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menemukan kesulitan belajar termasuk kegiatan identifikasi. Perlunya diadakan identifikasi belajar karena berbagai hal. Pertama, setiap siswa hendaknya mendapat kesempatan dan pelayanan untuk berkembang secara maksimal, kedua; adanya perbedaan kemampuan, kecerdasan, bakat, minat dan latar belakang lingkungan masing-masing siswa. Ketiga, sistem pengajaran di sekolah seharusnya memberi kesempatan pada siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya. Dan, keempat, untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh siswa, hendaknya guru beserta kepala sekolah  lebih intensif dalam menangani siswa dengan menambah pengetahuan, sikap yang terbuka dan mengasah ketrampilan dalam mengidentifikasi kesulitan belajar siswa.

Dalam rangka peningkatan kapasitas guru tentang bagaimana mengidentifikasi permasalahan belajar siswa , maka dari pihak Yayasan Tunas Lestari Sejahtera mengadakan TRAINING IDENTIFIKASI HAMBATAN BELAJAR SISWA, dengan narasumber Vina Rahmi team CSR pendidikan dari PT. Karyamas Adinusantara. Kegiatan yang dilaksanakan secara marathon di 9 sekolah dasar (SD) , dengan area sekolah di Kalimantan Barat ; SD Tunas Lestari Sejiram,Sungai Tawang, Khatulistiwa, Seriang, Sungai Tembaga pada tanggal 21 Januari 2017 dengan peserta 40 orang tenaga pengajar beserta kepala sekolah, area sekolah ; Kutai Barat yaitu SD Tunas Lestari Sungai Perak, Sungai Kedang, dan Sungai Basung pada tanggal 25 Februari 2017 dengan peserta 37 orang , serta yang terakhir di area Morowali, Sulawesi Tengah pada tanggal 1 Maret 2017 sebanyak 10 orang.

Kegiatan yang dilaksanakan selama satu hari ini , lebih banyak membahas permasalahan terhadap siswa per sekolah masing-masing, sebagai pembuka pikiran guru dalam mencoba menganalisa permasalahan yang ditemukan dalam kegiatan belajar mengajar, kemudian trainer memberikan materi tentang bagaiamana cara  mengidentifikasi Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning disabilities.

Setelah materi kegiatan training berlangsung , semakin seru dimana peserta terpancing untuk menemukan kendala siswa dalam mendapatkan nilai pelajaran yang sesuai dengan target nilai tuntas belajar, kemudian bagaimana metode pembalajaran dan cara pemberian soal saat ujian. Seperti pertanyaan dari guru SD Tunas Lestari Korola, bapak Elom .O. Kansil, “ saya memiliki seorang siswa di  kelas 5 namun untuk kemampuan pemahaman membaca nya masih sangat rendah, hampir semua mata pelajaran nilai nya di bawah KKM, sementara setahun lagi akan naik ke kelas 6 , sebelumnya juga sudah pernah tinggal kelas sekali , dia merupakan siswa pindahan dari sekolah Negeri di desa tetangga,  guru kelas juga sudah sering memberikan pengulangan belajar , berdiskusi dengan orang tua siswa , namun hasilnya masih tetap sama, apa yang sebaiknya kami lakukan?”.

“Kegiatan peningkatan kapasitas guru tidak hanya cukup sampai saat training saja, namun harus tetap di aplikasikan dan terus dilakukan diskusi bulanan di setiap masing-masing sekolah untuk bersama-sama mencari solusi memberikan metode pembelajaran yang baik sesuai kemampuan masing-masing siswa, sehingga guru kelas pun tidak merasa menajdi beban tersendiri dalam tanggung jawab terhadap siswa di kelasnya, dan yang paling utama adalah menjalin komunikasi dengan orang tua siswa bahwa tanggung jawab perkembangan kemampuan belajar siswa tidak berada hanya pada sekolah namun juga terletak pada keluarga” menurut Ibu Vina pada waktu terakhir sesi training.