Penulis:
Ni Nyoman Yuli Indah Yanti, S.Pd
Guru SDS Tunas Sejahtera Sungai Tawang
Kalimantan Barat

Matematika mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan, yakni di bidang perdagangan, teknologi dan sains. Dengan belajar matematika, secara tidak langsung melatih seseorang untuk berfikir secara rasional dan lebih menggunakan logika. Akan tetapi, faktanya sebagian besar siswa merasa takut dan malas belajar matematika, karena dianggap sulit, berhubungan dengan angka, rumus dan hitung-menghitung. Faktor lainnya adalah penilaian siswa terhadap penampilan guru matematika, yang identik dengan kacamata tebal, membawa buku banyak, menyeramkan, kaku dan suka menghukum siswa. Pemikiran yang demikian, tentu akan berdampak pada minat, pemahaman dan daya serap siswa. Tidak hanya di Indonesia, namun di negara lain pun masalah rendahnya tingkat penguasaan materi matematika siswa sudah menjadi masalah umum. Sebagaimana hasil survey “Education Testing Service” pada Universitas Princeton, Amerika Serikat bahwa matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang kurang dikuasai oleh siswa. Minat yang tinggi akan mendorong siswa untuk senantiasa berusaha mengerjakan soal sesulit apa pun itu, baik dengan bertanya ataupun mencari dari berbagai sumber. Pada dasarnya kemampuan setiap siswa berbeda, baik dalam gaya belajar serta memahami konsep-konsep yang abstrak. Belajar tidak cukup hanya membaca, mendengar dan melihat, akan tetapi memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran dan berbagi pengalaman kepada siswa lain.

Terdorong dari berbagai kendala yang dihadapi siswa dalam menyerap pembelajaran matematika yang disebabkan oleh berbagai faktor, maka dalam beberapa penyampaian materi matematika saya menggunakan alat peraga, dengan penyampaian bahasa yang sederhana. Alat peraga membantu siswa dalam memahami konsep abstrak. Tujuannya menumbuhkan motivasi, rasa percaya diri dan semangat belajar siswa, sehingga  siswa tidak mudah bosan dan mulai tertarik terhadap pembelajaran matematika, yang tentunya berdampak pada pencapaian tujuan pembelajaran. Pada hakikatnya pengalaman belajar memberikan pengalaman bagi siswa untuk menguasai kompetensi dasar secara ilmiah dan ditinjau dari dimensi kompetensi yang ingin dicapai, pengalaman belajar meliputi pengalaman untuk mencapai kompetensi pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. (Depdiknas, 2003 : 3).

Pada pembelajaran matematika di kelas 5 SD Tunas Sejahtera Sungai Tawang, untuk materi “mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang” saya menggunakan alat peraga dengan model pembelajaran Project Based Learning, metode diskusi, presentasi, unjuk kerja serta menggunakan pendekatan Active Learning. Active Learning bertujuan mengoptimalkan potensi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman agar mendapat hasil belajar yang memuaskan. Active Learning atau Belajar Aktif membuat peran guru dan siswa bersinergi. Guru menjadi fasilitator, narasumber, dan inspirator bagi siswa dan siswa dalam proses pembelajaran mencari jawaban, membentuk dan memodifikasi pengetahuan dengan pengalaman dan pengetahuan yang diterima.

Alat peraga yang saya gunakan saya buat bersama siswa, menggunakan bahan kain flanel dengan teknik menjahit yang di dalamnya diisi dakron dan guntingan kertas bekas yang dilakukan pada saat jam tambahan berlangsung, sehingga tidak terlalu menyita banyak waktu pelajaran. Hal ini bertujuan untuk merangsang kreatifitas dan kerapian siswa dalam membuat suatu pola. Sebelum mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang tersebut, terlebih dahulu saya memaparkan berbagai pola jaring-jaring bangun ruang yang dipelajari. Jaring-jaring inilah sebagai kerangka awal siswa dalam membuat alat peraga tersebut. Siswa secara bebas memilih jaring-jaring yang akan mereka buat, yang dilakukan secara mandiri. Nampak keseriusan siswa dalam menggaris, menggunting dan menjahit pola. Butuh waktu 2 hari bagi siswa dalam menyelesaikan alat peraga tersebut.

Secara garis besar langkah-langkah pembelajaran yang saya lakukan adalah :

  1. Berdoa bersama sebelum memulai pelajaran yang dipimpin oleh ketua kelas
  2. Absensi kehadiran siswa dengan memanggil nama siswa satu-persatu
  3. Kilas balik tentang materi sebelumnya dengan mengajukan beberapa pertanyaan
  4. Memberikan motivasi kepada siswa, dengan memberikan tepuk tangan kepada siswa yang berhasil menjawab, dan membimbing siswa yang belum berhasil menjawab pertanyaan
  5. Menyampaikan materi sekaligus tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
  6. Mempersilahkan siswa untuk mempresentasikan karya mereka dan menjelaskan di papan tulis secara bergantian

Pada saat pemaparan materi mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang, terlihat dengan jelas rasa percaya diri pada siswa yang menjelaskan. Para siswa menyebutkan dan mengurai sifat-sifat sesuai dengan bangun ruang yang dibuat, mulai dari menyebutkan unsur-unsurnya dengan menunjuk pada alat peraga, hingga menuliskannya di papan tulis. Suasana pembelajaran nampak santai, namun penuh semangat. Pembelajaran pun terasa singkat. Siswa mulai antusias dan bersemangat dalam bertanya dan unjuk kebolehan.

Timbul perbedaan pembelajaran yang menggunakan alat peraga dengan tidak menggunakan alat peraga. Ketika dalam menyampaikan materi saya tidak menggunakan alat peraga, siswa cenderung pasif, malas bertanya, hanya sibuk mencatat dan apabila ditanya apakah sudah paham atau belum, mereka merespons sudah paham namun jika di akhir kelas saya tanyakan kembali perihal materinya, mereka sudah lupa. Apabila dalam pembelajaran saya menggunakan alat peraga, siswa menjadi lebih aktif, bersemangat, mudah memahami dan mengingat materi, sehingga apabila ada pertanyaan siswa bisa menjawab. Berikut adalah rangkuman dari skema pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dan tidak menggunakan alat peraga:

                                                        

Skema Pembelajaran
Skema Pembelajaran

Setelah saya menggunakan peraga dalam pembelajaran di kelas, terdapat perbedaan data hasil nilai siswa jika dibandingkan dengan pembelajaran tidak menggunakan peraga matematika serta suasana dalam pembelajaran di kelas. Nilai siswa secara keseluruhan mencapai KKM jika pembelajaran menggunakan peraga, dengan rata-rata 88,75 sedangkan jika tidak menggunakan peraga nilai siswa rata-rata 77,25 setelah dilakukan remedial pada materi mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang. Suasana yang tercipta pada saat pembelajaran juga lebih bersemangat dan atraktif, serta siswa berani tampil di depan kelas jika menggunakan metode tadi. Berdasarkan hasil tadi, maka dapat disimpulkan bahwa penyampaian materi pembelajaran akan lebih mudah diserap dan dipahami oleh siswa apabila ada benda nyata sebagai nalar dari sesuatu yang abstrak ke konkrit. Dengan demikian sangatlah diperlukan dalam suatu proses pembelajaran menggunakan alat peraga ataupun media yang mendukung terciptanya proses pembelajaran yang aktif, bermakna sehingga tujuan belajar tercapai, karakter siswa yang diharapkan terpenuhi yang bermuara pada peningkatan minat dan hasil belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Syukron Zahidi, Senin 9 Juni 2014 http://izzaucon.blogspot.com/2014/06/tugas-peran-dan-tanggungjawab-guru.html

Tim Catha Edukatif. Matematika untuk SD/MI kelas V semester 2, KTSP 2006. Sukoharjo : CV Sindunata. http://www.fokusindunata.com

  1. Fajar Maulana, Pargito, Darsono. 2014. Thesis Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Melalui Penggunaan Metode Pembelajaran Group Investigation. Bandar Lampung: Pasca Sarjana IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. http://media.neliti.com/media/publications/40971-ID-peningkatan-prestasi-belajar-siswa-melalui-penggunaan-metode-pembelajaran-group.pdf

Ngatiman. 2012. Skripsi Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Menggunakan Alat Peraga Asli Pada Siswa Kelas IV SDN 1 Tambahrejo Kecamatan Gadingrejo kabupaten Pringsewu. Bandar Lampung : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung http://digilip.unila.ac.id/11604/3/PTK%20Ngatiman%201013119036.pdf

Seif Rifki Albana. 2015. Skripsi Penggunaan Media Pembelajaran Sebagai Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Siswa Kelas VIII A MTs Muhammadiyah Blimbing Polokarto Sukoharjo. Solo : Universitas Muhammadiyah Surakarta. http://eprints.ums.ac.id/35574/1/Naskah%20Artikel%20Publikasi.pdf

 

Pemenang Kedua Lomba Menulis Guru Yayasan Tunas Lestari Sejahtera Tahun 2018